Sekolah Khusus Anak Penderita Kanker

www.Gochiindonesia.wordpress.com

“Yayasan Kanker Anak Indonesia ( YKAKI), bekerja sama dengan para dokter dan perawat dari RSCM, RS. Fatmawati dan RS. Kanker Darmais membuat sekolah, agar anak-anak yang sedang menjalani pengobatan tetap mempunyai kegiatan dan tidak tertinggal dalam pelajaran”, jelas Aniza M. Santosa, bendahara YKAKI, di Jakarta.

YKAI bekerja sama dengan Home Schooling Kak Seto sebagai konsultan serta berbagai pihak antara lain PT Gramedia serta para donatur lainnya telah berhasil memfasilitasi tiga rumah sakit di Jakarta antara lain RSUP Cipto Mangunkusumo, RS Kanker Dharmais dan RS Fatmawati. Tenaga-tenaga pengajar profesional telah direkrut secara tetap guna memfasilitasi program pendidikan di rumah sakit ini secara konsisten dan teratur.

“Sekolah-ku ini adalah wujud dari impian saya, bahwa walaupun anak sedang dalam pengobatan di rumah sakit, tetapi mereka tetap berhak untuk bermain dan belajar,” kata Ira Soelistyo, salah satu pendiri sekaligus Sekretaris YKAKI, yang memiliki pengalaman putranya saat perawatan di luar negeri tetap bersekolah semasa tinggal di rumah sakit.

“Tenaga pengajar di sekolahku terdiri dari tujuh orang tutor, tiga orang tutor adalah sarjana psikologi dan empat orang adalah sarjana pendidikan,” tutur Aniza.

Dido, seoorang tutor di sekolah-ku menjelaskan anak-anak penderita kanker sedikit berbeda dengan anak-anak pada umum. Terkadang mereka sangat lemah ketika habis melakukan pengobatan. “Mood mereka juga kurang stabil karena pengaruh obat,” jelas Dido.

Dalam pengajaran, para tutor harus melakukan pendekatan ekstra, agar anak-anak tersebut bersedia belajar. Ketika anak menolak untuk belajar, para tutor akan menanyakan apa keinginan mereka.

Jika sudah mogok belajar, biasanya anak-anak akan diminta untuk mewarnai atau bermain balok. Namun tak jarang para tutor membiarkan dulu sampai anak itu lebih tenang. “Kita diamkan dulu, sambil bilang kalau sudah tenang, kakak ada di ruang sebelah ya…,” ucap Dido.

Anak-anak tidak dipaksakan ingin belajar apa, mereka bebas memilih pelajaran dan tutor yang mereka sukai. Karena itu, seorang tutor menangani minimal dua orang anak.”Yang satu kita kasih mewarnai dulu, lalu pindah ke pasien lain, terus dicek lagi yang sebelumnya, jadi ya bolak-balik aja,” ungkap Dido.

Pengajaran juga bisa berlangsung di bangsal-bangsal rawat inap. Pelajaran yang di Sekolah-ku, layaknya sekolah pada umumnya. Ada pelajaran bahasa, matematika dan sosial. Tutorlah yang memberikan bahan-bahan pelajaran mereka.

Jika tidak sedang mengalami perawatan, sebagian anak bersekolah di sekolah umum. Namun menurut Aniza, karena ketebatasan ekonomi, banyak juga anak-anak yang putus sekolah. “Rata-rata yang ikut dalam sekolah-ku adalah anak dari keluarga yang kurang mampu, banyak juga yang putus sekolah. Kalau di sekolah-ku sama sekali tidak dipungut biaya,” jelas Aniza.

Saat ini sekolah-ku mempunyai murid sekitar 60 siswa, mulai dari kelas dua SD, sampai kelas enam. Dalam jangka panjang, Sekolah-ku bertujuan untuk memfasilitas anak-anak agar dapat mengikuti ujian akhir ataupun ujian sekolahnya meski masih dalam perawatan di rumah sakit dengan izin dari sekolah serta Departemen Pendidikan Nasional atau badan terkait.”Pihak kami juga sedang mengupayakan anak-anak Sekolah-ku agar dapat mengikuti Ujian Akhir Nasional,” ujar Aniza.

Sekolah kita terdapat di RSCM, RS. Fatmawati dan RS. Kanker Darmais. Jadwal di RSCM, setiap hari Senin dan Kamis, pukul 15.30, RS. Kanker Darmais hari Rabu dan Jumaat pukul 08.30 – 12.00. Di RS. Fatmawati hari Selasa dan Jumat pukul 15.00- 17.30.

Advertisements

Banyak Anak Meninggal Karena Kanker

Setiap tahun sekitar 160.000 anak-anak meninggal karena kanker dan empat dari lima anak-anak itu berasal dari negara-negara berpenghasilan rendah atau menengah.

Ada beragam masalah yang dihadapi keluarga dan anak penderita kanker. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, menyatakan, penderita kanker anak, selama masa pengobatan dan perawatan, akan menghentikan sekolahnya sehingga tidak ada aktivitas sama sekali. Akibatnya stres dan bosan dengan pengobatan bakal terjadi.

www.Gochiindonesia.wordpress.com

Ini sangat masuk akal, karena penderita kanker memerlukan pengobatan dan perawatan yang intensif dan membutuhkan waktu relatif lama. Pengobatan kanker butuh waktu antara 3 bulan sampai 2 tahun, yang kemudian dilanjutkan dengan pengobatan pemeliharaan selama 5 bulan sampai 2 tahun.

Selain itu, bagi penderita yang berasal dari daerah yang cukup jauh dari rumah sakit, akan memerlukan banyak biaya tambahan untuk tinggal di sekitar rumah sakit dalam masa pengobatan. Jika keluarga tidak mampu lagi membiayai, maka sebagian penderita akan tidak bisa melanjutkan pengobatannya.

Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia Pinta Manullang Panggabean menjelaskan, meski sudah ada skema pendanaan pengobatan bagi pasien kanker pada anak yang dari keluarga miskin melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat, namun tidak semua penderita terus menjalani pengobatan. Salah satu penyebabnya adalah, keluarga pasien tidak memiliki dana untuk biaya transportasi maupun biaya hidup untuk tinggal di sekitar rumah sakit.

Untuk menangani hal itu, diperlukan suatu upaya agar anak-anak yang menderita kanker tetap mendapat hak-hak mereka untuk tumbuh, bermain, sekolah dan belajar. Selain itu, diperlukan suatu tempat tinggal yang memungkinkan kondisi keluarga yang merawat tetap mendukung proses pengobatan dan perawatan anaknya.

Berdasarkan data registrasi kanker berbasis rumah sakti di DKI Jakarta tahun 2005 di 26 rumah sakit, terdapat 187 kasus kanker pada anak usia 0-17 tahun, terbanyak adalah leukemia (33,7 persen), neuroblastoma (7 persen), retinobla stoma (5,3 persen), osteosarcoma (4,8 persen), dan lymphoma non hodgkin (4,8 persen). Kanker pada anak merupakan 4,9 persen dari kanker pada semua usia. Kanker pada anak lebih banyak menyerang laki-laki (53,5 persen) daripada perempuan (46,5 persen).

Kanker Anak Tak Bisa Dicegah

Tidak ada yang dapat mencegah penyakit, terlebih kanker pada anak. Seorang anak dapat terkena kanker karena gen. Yang lain lagi bisa jadi dipicu oleh makanan yang dikonsumsinya.

“Pemicunya lainnya adalah faktor lingkungan dan makanan anak-anak yang tidak sehat. Bisa juga karena radiasi atau infeksi virus. Atau perpaduan antara faktor genetika, lingkungan, radiasi, dan infeksi,” terang Pinta Manullang Panggabean Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker.

Yang jelas, penyimpangan pertumbuhan sel akibat cacat genetika dalam kandungan menjadi alasan utama.

Sayang, banyak orang tua yang belum mengetahui dari awal bahwa anak mereka terkena kanker. Setelah kondisi memburuk baru orang tua membawa anak mereka ke Rumah Sakit.

www.Gochiindonesia.wordpress.com

Seperti yang diceritakan Yuli (37), ia sama sekali tidak menyangka kalau anak semata wayangnya Nurul (7) mengidap leukemia. “Awalnya dia demam tinggi, di badannya muncul biru-biru seperti orang habis dipukuli. Lalu saya bawa ke Puskesmas saja,” papar Yuli.

Selama enam bulan Nurul mengalami gejala seperti itu, berkali-kali ia dibawa ke Puskesmas namun tidak juga membuahkan hasil. “Akhirnya saya bawa Nurul ke dokter spesialis anak, lalu dirujuk ke RSCM,” papar Yuli. Setelah melakukan pemeriksaan laboratorium, Nurul divonis LLAC I atau Leukemia dengan risiko biasa.

Hal yang sama dialami Ine Siti Ratnasari (26). Ia sama sekali tidak menyangka saat umur 3 tahun terkena Retinoblastoma.

“Mulannya mata sebelah kiri saya terasa terang, tidak berasa sakit sama sekali. Ada codetnya seperti mata kucing, mata saya juga jadi juling,” papar Ine. Ternyata itu adalah kanker mata.

Untung mata Ine segera dioperasi dan diambil bola matanya meski wajah cantiknya harus dihiasi perban untuk menutupi mata. Bahkan Ine pun sempat menggunakan mata palsu meski kemudian harus menutup matanya lagi karena pertumbuhannya tidak sempurna. Tapi yang jelas, tindakan untuk segera mengobati mata ini merupakan langkah tepat. Ine tetap sehat dan selamat dari kematian.

Memang kalau terlambat menangani kesempatan hidup lebih kecil, kata Pinta.”Tapi kita jangan putus asa, terus berusaha. Jika terbentur masalah biaya, saat ini banyak program untuk keluarga yang tidak mampu seperti program (keluarga miskin) GAKIN,” ujar Pinta